RSS

Selasa, 07 Juni 2011

MERAIH KEBERKAHAN WAKTU


“Motivasi adalah sesuatu yang membuat Anda memulai, kebiasaan adalah sesuatu yang membuat Anda melanjutkan”
(Jim Ryan)

Setiap manusia yang hidup di muka bumi ini melewati waktu yang sama, yaitu 60 detik dalam satu menit, 60 menit dalam satu jam, 24 jam dalam sehari semalam, 7 hari dalam seminggu, 52 minggu dalam setahun, 365 hari dalam satu tahun dan seterusnya. Jika anda saat ini telah menginjak usia 60 tahun dan rata-rata tidur 8 jam sehari maka anda telah memakai waktu selama 20 tahun hanya untuk tidur saja.

Itu sekedar ilustrasi yang patut menjadi bahan perenungan kita bersama. Ternyata, kita banyak menggunakan waktu hanya untuk pekerjaan yang kurang bermanfaat. Survey membuktikan bahwa untuk urusan tidur saja, seseorang dapat menghabiskan waktu yang begitu panjangnya. Sungguh ironis, apalagi jika orang tersebut belum mempunyai prestasi yang besar dan bermanfaat bagi masyarakat.

Simaklah sebuah ilustrasi mengenai “Manajemen Waktu” berikut ini :

Pada suatu hari, sang ahli “Manajemen Waktu” ini berbicara di depan sekelompok mahasiswa jurusan bisnis. Ia memakai ilustrasi yang tidak akan mudah dilupakan oleh para mahasiswa.

Ketika ia berdiri di hadapan mahasiswanya, ia berkata, “Baiklah, sekarang waktunya kuis!”

Kemudian ia mengeluarkan toples berukuran galon yang bermulut cukup besar dan meletakkannya di atas meja. Ia juga mengeluarkan selusin batu berukuran sebesar kepalan tangan dan meletakkannya satu per satu ke dalam toples dengan penuh hati-hati.

Ketika batu-batu itu memenuhi toples hingga tidak ada lagi batu yang muat untuk masuk ke dalamnya, ia pun bertanya, “Apakah toples ini telah penuh?”

Semua mahasiswa menjawab serentak, “Sudah!”

Kemudian ia bertanya, “Benarkah?”

Para mahasiswanya menjawab mantap, “Benar!”

Dengan senyum di bibir, ia lalu meraih sekeranjang kerikil dari bawah meja. Ia memasukkan kerikil-kerikil itu ke dalam toples dengan sedikit mengguncang-guncangkannya sehingga kerikil itu mendapat tempat di antara celah-celah batu-batu itu.

Ia pun bertanya sekali lagi kepada mahasiswanya, “Apakah toples ini sudah penuh?”
Kali ini mahasiswanya hanya tertegun.

“Mungkin belum!” salah satu dari mereka menjawab dengan agak ragu.

“Bagus!” jawabnya tegas

Masih dengan senyum, kembali tangannya meraih bagian bawah meja dan dikeluarkannya sekeranjang pasir. Ia mulai memasukkan pasir itu ke dalam toples dan pasir itu dengan mudah langsung memenuhi ruang-ruang kosong di antara kerikil dan bebatuan.

Sekali lagi ia bertanya, “Apakah toples ini sudah penuh?”

“Belum!” serentak mahasiswanya menjawab, seakan telah mengerti apa yang dimaksud sang ‘Manajemen Waktu” itu.

Sekali lagi ia berkata, “Bagus!”

Ia lalu mengambil sebotol air dan mulai menyiramkannya ke dalam toples hingga toples itu terisi penuh.

Si Ahli itu menatap tajam setiap maata para mahasiswanya dan bertanya, “Apakah maksud dari ilustrasi ini?”

Seorang mahasiswa yang antusias langsung menjawab, “Maksudnya, betapa pun penuhnya jadwal Anda, jika Anda berusaha pasti masih dapat menyisipkan jadwal lain ke dalamnya!”

“Bukan!” jawab si Ahli

Para mahasiswa itu terperangah dan merasa bingung. Sebagian dari mereka, mulutnya terkatup.

“Bukan itu maksudnya. Sebenarnya, ilustrasi ini mengajarkan kepada kita semua bahwa jika bukan batu besar yang pertama kali kalian masukkan maka kalian tidak akan pernah dapat memasukkan batu besar itu ke dalam toples tersebut,” ujar si Ahli mengutarkan maksud dari ilustrasi tadi.

“Apakah wujud ‘batu-batu besar’ dalam hidupmu?” kata sang Ahli itu selanjutnya, “mungkin masa depan anak-anakmu, suami atau istrimu, orang-orang yang kalian sayangi, persahabatanmu, kesehatanmu dan mimpi-mimpimu, serta segala hal yang kalian anggap paling berharga dalam hidup.”

Selanjutnya, ia memperingatkan mereka, “Ingatlah untuk selalu meletakkan ‘batu-batu besar’ tersebut sebagai yang pertama atau kalian tidak akan pernah mempunyai waktu untuk memperhatikannya. Jika kalian mendahulukan hal-hal yang kecil dalam prioritas waktu maka kalian hanya memenuhi hidup dengan hal-hal yang kecil, kalian tidak akan mempunyai waktu untuk melakukan hal-hal yang besar dan berharga dalam hidup.”

Begitulah akhirnya sang Ahli “Manajemen Waktu” itu berhasil menggugah para mahasiswanya untuk sungguh-sungguh memanfaatkan waktu mereka yang berharga itu dengan hal-hal yang besar dan tujuan-tujuan besar. Kisah di atas tentu telah menggugah kita untuk memahami bahwa jika kita tidak pandai dalam mengelola waktu maka kita akan selamanya akan mengerjakan pekerjaan yang kecil saja dan tidak pernah sempat “berpikir besar” atau melakukan hal-hal yang besar sehingga prestasi kita hanya kecil-kecil saja.

*Grasping The Success*
*Nelson Anand*



0 komentar:

Poskan Komentar